A.
BIOGRAFI WUNDT DAN TITCHENER
BIOGRAFI WILHELM WUNDT
Wilhelm Wundt merupakan ilmuan dalam
bidang kedokteran, psikologi, filsafat, sosiologi, fisiologi, dan ahli hukum, lahir
tanggal 16 Agustus 1832 di Neckarau, Baden, Jerman dari pasangan Maximilian
Wundt dan Marie Frederike nee Arnold, dan meninggal pada tahun 1920. Ia berasal
dari keluarga intelektual dan ayahnya merupakan seorang pendeta. Ia mendapatkan
gelar sarjana dan doktoralnya di Universitas Heidelberg dalam bidang bidang
kedokteran. Ia juga memeperoleh gelar sarjana hukum di Universitas Berlin.
Awal karirnya adalah sebagai pengajar
ilmu fifiologi di Universitas Heidelberg. Kemudian ia dipindahkan ke
laboratorium Helmhotz, dan disini ia menulis bukunya yang berjudul “Beitrage Zur Theorie Der Sines Wahrnemung”
(Persepsi yang Mempengaruhi Kesadaran) serta mulai muncul pemikiran bahwa
psikologi merupakan disiplin ilmu yang mandiri. Tahun 1873, ia menerbitkan buku
“Grund zuge der Psysiologichen
Psychologie” (Dasar Fisiologis dari Gejala-Gejala Psikologi). Ini
mengidikasikan ketertarikannya terhadap ilmu psikologi. Setelah itu ia pindah
ke Universitas Leipzig dan menjadi profesor filsafat disana. Disinilah cikal
bakal munculnya psikologi sebagai disiplin ilmu mandiri (psikologi modern)
dengan didirikannya laboratorium psikologi yang pertama oleh Wundt. Karena hal
ini pula ia dianggap sebagai bapak psikologi eksperimental dan dijuluki bapak
psikologi modern hingga sekarang. Dalam memandang psikologi, ia membagi
psikologi dalam dua bidang, yaitu:
·
Individual
psychology (psikologi individu), menyelidiki proses mental
yang rendah, seperti penginderaan dan perasaan dan proses mental yang tinggi,
seperti berpikir dan belajar.
·
Volker
psychology (psikologi), menyelidiki gejala kejiwaan pada
sekelompok orang.
Sedangkan paham psikologi yang
dikembangkan Wundt adalah paham strukturalisme,
yaitu studi analisis tentang struktur pikiran melalui introspeksi yang
terkontrol dan focus pada unsure-unsur dasar yang membentuk pikiran. Wundt
berpendapat bahwa gejala psikis yang kompleks sebenarnya adalah struktur yang
terdiri atas keadaan mental yang sederhana. Ia juga berpendapat jika psikologi
strukturalisme memiliki tujuan sebagai berikut:
1.
Menggambarkan komponen-komponen
kesadaran sebagai elemen-elemen dasar.
2.
Menggambarkan kombinasi kesadaran
sebagai elemen-elemen dasar tersebut.
3.
Menjelaskan hubungan elemen-elemen
kesadaran dengan sistem saraf.
Setelah Wundt meninggal, penelitiannya
pun dilanjutkan oleh Titchener.
BIOGRAFI
EDWARD BRADFORD TITCHENER
Lahir
di Chichester, Inggris, 11 Januari 1867 – dari pasangan John Titchener dan
Alice Field Habin – dan meninggal pada tanggal 3 Agustus 1927 di Ithaca, New
York. Keluarganya merupakan keluarga pendeta, dan pada awalnya ia pun
dipersiapkan untuk menjadi seorang pendeta. Tahun 1885, ia mendapatkan beasiswa
di Universitas Oxford dan lulus dengan gelar sarjana filsafat. Selama di Oxford
ia mulai membaca buku-buku karangan Wundt, ia bahkan menerjemahkan buku Wundt
yang berjudul “Grund zuge der
Psysiologichen Psychologie” (Dasar Fisiologis dari Gejala-Gejala Psikologi)
dari bahasa Jerman ke bahasa Inggris. Setelah menamatkan kuliahnya di Oxford
pada tahun 1980, ia pun pergi ke Jerman untuk melanjutkan studinya di
Universitas Leipzig dan belajar kepada Wundt. Lalu ia mengajar filsafat dan
psikologi di Universitas Cornell pada tahun 1892. Ia juga mengembangkan
laboratorium psikologi. Sebagai murid Wundt, ia menganut paham strukturalisme. Namun ia juga tidak
sepenuhnya sependapat dengan Wundt, hal ini ia tuangkan dalam bukunya yang
berjudul Experimental Psychology, ia
menegaskan definisi eksperimen menurut Wundt yang menentang eksperimen yang
dilakukan terhadap hewan, orang-orang abnormal, dan anak-anak, padahal
eksperimen-eksperimen seperti ini yang justru akan dilakukan penganut paham
fungsionalisme. Titchener juga berpendapat bahwa hanya ada satu pasang kutub
emosi, yaitu “lust-unlust”. Dan dua
pasang kutub yang lain dikembalikan paad lust-unlust.
B.
REVIEW PSYCHOLOGY: AN INTRODUCTION HAL. 13
WUNDT
AND TITCHENER: THE STRUCTURE OF THE MIND
Wilhelm Wundt adalah seorang professor
biologi yang tertarik pada bidang kesadaran manusia dan budaya. Ia menggunakan
metode keilmuan yang dipakai ilmuan lain dan mengaplikasikannya untuk meneliti
tentang kesadaran manusia. Penelitian ini akhirnya diambil alih oleh muridnya,
Edward Bradford Titchener. Ia ingin mengidentifikasi elemen-elemen dasar dari kesadaran menggunakan metode introspeksi, yaitu proses memandang
terhadap pemikiran diri sendiri yang disadari. Mereka berdua secara hati-hati
mengamati isi dari pemikiran mereka sendiri seakurat mungkin dan menghilangkan
aspek emosi untuk memisahkan elemen-elemen dasar dari pikiran.
Dalam buku ini digambarkan yang
dinamakan introspeksi adalah ketika seseorang memasukkan potongan apel ke dalam
mulut kita lalu kita menyebutkan sensasi dalam pikiran kita terhadap stimulus
tersebut, seperti rasa asam, tekstur
yang renyah dan berair. Hal inilah yang disebut introspeksi, mendeskripsikan
konten dasar dari pemikiran kita.
Wundt dan Titchener disebut sebagai strukturalis,
karena mereka berdua meneliti elemen dasar dari pemikiran dan bagaimana
pemikiran tersebut tersusun.
C.
REVIEW PSYCHOLOGY’S INTELLECTUAL ROOTS
Dalam memahami dirinya sendiri, manusia
membutuhkan pencarian yang panjang. Terdapat dua pendapat terhadap isu mind-body problem, yaitu:
1)
Mind-body
dualism – yang banyak dianut filsuf pada era awal – yang
percaya bahwa pikiran adalah kesatuan
spiritual, bukan subjek aturan-aturan fisik yang mengontrol tubuh. Akan tetapi
jika pikiran tidak diatur oleh hal-hal fisik, bagaimana mungkin pikiran
menyadari sensasi pada tubuh, dan bagaimana mungkin pikiran-pikiran dapat
mengontrol fungsi-fungsi tubuh?
Rene Descrates, filsuf, matematikawan, ilmuan asal
Perancis berpendapat jika pikiran dan tubuh saling berinteraksi melalui
kelenjar pineal yang berukuran sangat kecil di dalam otak. Namun ia tetap berpegang bahwa pikiran meruapakan spiritual,
kesatuan non-material.
2) Monism,
yang mempercayai bahwa pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan dan bahwa pikiran bukanlah kesatuan
spiritual yang terpisah. Penganut paham ini berpendapat jika kejadian-kejadian
mental merupakan produk dari kejadian-kejadian fisik di dalam otak. Paham ini
membantu membangun psikologi karena monism menegaskan bahwa pikiran dapat
dipelajari dengan mengukur proses-proses fisik di dalam otak.
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan para peneliti dari Eropa yang menstimulasi otak hewan
di laboratorium binatang menggunakan aliran listrik, lalu memetakan area
permukaaan yang mengontrol berbagai pergerakan tubuh dan hasilnya jika terdapat
kerusakan di salah satu area otak, maka akan mempengaruhi berbagai perilaku,
misalnya jika bagian otak kiri terdapat kerusakan, maka akan mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk berbicara.
Kemudian saat muncul teori yang
dikemukakan Charles Darwin mengenai evolusi manusia yang menggemparkan dan
bertentangan dengan kepercayaan filsafat dan agama. Secara lebih jauh lagi,
teori ini menegaskan bahwa ilmuan dapat meningkatkan pengetahuan tentang
perilaku manusia dengan cara mempelajari spesies yang lain. Lalu pada akhir abad
19, muncullah dorongan lahirnya ilmu psikologi.
DAFAR PUSTAKA
Irawan, Eka Nova. 2015. Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh
Psikologi. Yogyakarta: IRCiSoD

Tidak ada komentar:
Posting Komentar